Mengenal islam melalui kesenian

Mengenal Islam Melalui Kesenian ~o~

Kaya dalam Timbangan Islam

Naliko semono, jabang bayi kalabuh ing Kawah Condrodimuko. Karanjap maewu – ewu pusoko kadewatan. Nanging amargo antuk pengayomaning Sang Hyang Wenang, ora ndadekake sirnane si jabang bayi, malah ndadekna soyo gedhe lan gedhe. Sanaliko jabang bayi kang wus katon diwoso jumedul saking telenging Kawah Condrodimuko kang gadhah asmo Raden Wisanggeni.

Bagi para saudara yang pernah mendengar atau bahkan mengenal sosok lakon dalam pewayangan, mungkin banyak sedikit sudah tahu siapa Raden Wisanggeni.

Dia adalah anak dari Dresonolo dan Raden Arjuno yang tidak mendapatkan restu dari oarngtua Dresonolo dan pada akhirnya ketika lahir (prematur akibat derita siksa yang dialami biyungnya), bayi itupun dicampakkan ke Kawah Condrodimuko (Samudera Ujian bagi para Dewa).

Wisanggeni, nama ini diambil oleh Bethoro Narodho (salah satu dewa yang baik) yang artinya wiso geni ” bisa api”.

Namun jika para Da’i Islam yang dalam da’wahnya menggunakan metode pewayangan, nama Wisanggeni diartikan dengan bahasa arab iaitu ” Waasi’un Ghoniyyun” yang berarti Luas dan Kaya.

Luas kesabaran dan begitu kaya hati ( waro’ , qona’ah, serta pema’af) sang Raden.

Baiklah, dari sini akan kami mulai pada pembahasan ”Arti Kaya” sebagaimana judul tulisan ini.

Bahawasannya telah banyak disebutkan dalam sumber syari’at Islam, arti dan ma’na kaya dalam timbangannya. Yang pertama adalah sabda Rosuulullaah :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Huroiroh)

Jadi jelas bahawa bukanlah kekayaan itu diukur dari harta dunia, namun kecukupan, kerelaan hati dalam setiap Pembagian-Nya ( qona’ah).

Sifat qona’ah tidaklah dimiliki kecuali oleh mukmin yang percaya dan yaqin akan setiap Pembagian-Nya itulah yang terbaik baginya.

Pernah suatu ketika, bahawasannya Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa Sallam memberikan nasihat kepada Shochabat Abu Dzar Rodliyallaahu ‘anhu, beliau berkata :

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rosuulullaah Shollallaahu ‘alayhi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati ( hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Chibban)

Kemudian dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272, Darul Ma’rifah disebutkan :

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”

Kemudian mengenai zuhud, Abu Dzar Rodliyallaahu ‘anhu mengatakan, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada pada Allaah dari pada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.“(riwayat mauquf) sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Achmad dalam kitab Az Zuhd.” (Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346)

Al Imam An Nawawi Rochiimahullaahu Ta’aalaa mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.” (Al Minhaj Syarh Shochich Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 7/140, Dar Ihya’ At Turots)

Dari Ibnu Mas’ud Rodliyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa Sallam biasa membaca do’a: “Allaahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaaf wal ghina” (Ya Allaah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721).

Al Imam An Nawawi Rochiimahullaahu Ta’aalaa mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41]

Dari keterangan-keterangan di atas, bisa kita ambil banyak faedah diantaranya kita tak perlu memaksakan diri untuk menggapai rizqi yang sebenarnya telah ada dalam Catatan Yang Kuat Terjaga (Laukh Mahfudz).

Cukup bagi kita berusaha sesuai jalur yang benar, kemudian pasrah total akan segala Ketentuan-Nya yang bakal terjadi kerna telah jelas akan Janji-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Dari Umar bin Al Khoththob Rodliyallaahu ‘anhu, Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allaah, sungguh Allaah akan Memberikan kalian rizqi sebagaimana burung mendapatkan rizqi. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[HR. Ahmad (1/30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Chibban no. 402]

Read more : https://m.facebook.com/photo.php?fbid=305558512879442&id=100002758869620&set=a.103356559766306.3234.100002758869620&refid=56

Dan pada akhirnya, kami berdo’a agar kita yang hadir di sini Diberikan-Nya kekayaan hati sebagaimana maksud kaya yang telah disebutkan Rosuulullaah Shollallaahu ‘Alayhi wa Sallam. Aamiiin —

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: