Awas penyakit hati

~ Penyakit Hati Sukar Terdeteksi ~

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: » إن الحلال بين وإن الحرام بين، وبينهما مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه. ألا وإن لكل ملك حمى، ألا وإن حمى الله محارمه، ألا أن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب« متفق عليه.
.
Dari An Nu’maan bin Basyair rodliyallaahu ‘anhuma berkata, Aku mendengar Rosuulullaah Shollallaahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samar-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Barangsiapa yang menghindari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barang siapa yang jatuh ke dalamnya maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahawa setiap penguasa (raja) memiliki larangan,dan ketahuilah bahawa Larangan Allaah adalah apa yang diharamkan-Nya.Ketahuilah bahawa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (mutafaq ‘alaih)

Hakikat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, segumpal darah (QS. 96:1-5) berupa jasad/materi dan hembusan ruh (QS. 38:71-72) yang tanpa materi. Di mana antara keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Dalam perspektif sistem nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh seonggok jasad tidak lagi disebut sebagai manusia.

Masalah hati yang erat kaitannya dengan ruh menjadi hal krusial jika tidak mampu melakukan management terhadapnya. Alasannya, hati itu merupakan penentu. Penentu apa? Bisa dua hal, yaitu kondisi fisik dan nilai akhir amal.

Orang yang hatinya tenang, tentram, dan bersih lebih dekat dengan kesehatan fisik. Ini disinggung oleh Rosuulullaah Shollallaahu ‘Alayhi wa Sallam sebagaimana Hadits di atas.

Selain sebagai sumber kebaikan fisik, hati juga menjadi penentu nilai akhir amal, namun dalam tulisan ini kami hanya akan menyinggung bagian pertama.

Ruh dan jasad itu saling berkaitan, maka sesuatu yang berhubungan dengan ruh akan berpengaruh terhadap jasadnya. Sebagaimana diketahui, bahawa selama ada keinginan kuat dan jasad yang sehat, pada akhirnya akan mampu menghasilkan cahaya akal. Sifat berlebihan akan menjadi sebab sampainya kepada keyakinan yang salah dan memiliki akhlak yang tercela yang tampak pada jasad. Kondisi ini akan menyebabkan penyakit yang sangat berat yang tampak bukan hanya pada lahir akan tetapi juga pada batinnya, dan (ketika itu terjadi), maka dibutuhkan dokter yang sangat ahli serta cerdas yang bisa mengobati penyakit yang tersebut hingga sembuh. [Fakhr al-Dîn, Tafsîr Mafâtih al-Ghaîb, juz 14 : 1981 h. 121]

Ketika seseorang memiliki keinginan kuat untuk mencapai sesuatu, maka keadaan ruh dalam dirinya akan tertekan, terpacu dan pada akhirnya apabila tak mendapati apa yang diinginkannya, maka kemungkinan besar akan terjadi goncangan jiwa, hati dan jism menjadi sakit.

إِنَّ هذَهِ الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ قِيْلَ فَمَا جَلاَؤُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya hati ini berkarat sebagaimana berkaratnya besi. Ditanyakan, ‘Apa pembersihnya wahai Rosuulullaah ? Beliau menjawab, ‘Membaca al-Quran’.” (H.R. al-Qodlā’iy)

Seseorang yang hatinya telah terjangkit suatu penyakit, maka akan sulit untuk menerima nasihat. Dan yang harus kita ketahui bahawasannya penyakit hati jika tak lekas diobati, dia akan semakin berkarat, membusuk hingga akhirnya tak ada lagi nurani/perasa. Orang yang tak memiliki nurani, hilanglah semua adab, moralitasnya. Ia bahkan selalu menuruti keinginan nafsu dan kelezatan dirinya, tidak lagi mempedulikan semuanya, hanya ingin mendapati bagian dan keinginannya, tiada peduli akan Tuhan -nya rela atau murka.

Ia menghamba kepada selain Allaah; dalam cinta, takut, harap, ridlo dan benci, pengagungan dan kehinaan. Jika ia mencintai maka ia mencintai kerana hawa nafsunya. Jika ia membenci maka ia membenci kerana hawa nafsunya. Jika ia memberi maka ia memberi kerana hawa nafsunya. Jika ia memberi maka ia memberi kerana hawa nafsunya. Jika ia menolak maka ia menolak kerana hawa nafsunya. Ia lebih mengutamakan dan mencintai hawa nafsunya daripada keridloan Tuhan -nya.

Hawa nafsu adalah pemimpinnya, syahwat adalah komandannya, kebodohan adalah sopirnya, kelalaian adalah kendaraannya. Ia terbuai dengan pikiran untuk mendapatkan tujuan-tujuan duniawi, mabuk oleh hawa nafsu dan kesenangan dini. Ia dipanggil kepada Allaah dan ke kampung akhirat dari tempat kejauhan. Ia tidak mempedulikan orang yang memberi nasihat, sebaliknya mengikuti setiap langkah dan keinginan syetan. Ketika kita menjumpai orang yang seperti ini, maka kita harus bersabar atasnya,

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ هِشَامٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَنْصَارِ إِنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي وَمَوْعِدُكُمْ الْحَوْضُ

”Telah bercerita kepadaku Muchammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Hisyam berkata, aku mendengar Anas bin Malik Rodliyallaahu ‘anh berkata; Nabi Shollallaahu ‘Alayhi wa Sallam berkata kepada kaum Anshor: “Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoisme, individualis, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku, dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)”.] (Shohih Bukhori no. 3509)

Keadaan seseorang yang demikian itu menunjukkan telah terkunci mati hati, hanya terpaut untuk kesenangan duniawi, kecelakaan besar baginya.

سمعت الفضيل بن عياض يقول : خمس من علامات الشقاء القسوة في القلب و جمود العين و قلة الحياء و الرغية في الدنيا و طول الأمل .

”Aku mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata : Lima termasuk tanda celaka : Hati yang membatu, mata yang membeku, sedikit rasa malu, dengan dunia menggebu dan khayalan tinggi tak terjangkau (Imam al Baihaqy : Syu’ab al-Iimaan : VI/148)

Dunia terkadang membuatnya benci dan terkadang membuatnya senang. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta selain dari kebatilan. Keberadaannya di dunia sama seperti gambaran yang dikatakan kepada Laila, “Ia musuh bagi orang yang pulang dan kedamaian bagi para penghuninya. Siapa yang dekat dengan Laila tentu ia akan mencintai dan mendekati.”

Maka membaur dengan orang yang memiliki hati semacam ini adalah penyakit, bergaul dengannya adalah racun dan menemaninya adalah kehancuran.

* Apakah Hati Anda Berpenyakit ?

Beranikah kita mengakui dengan sebenarnya bahawa hati kita sedang sakit ?

Tak perlu bibir kita berucap, mengakui akan kehinaan diri di depan orang lain. Kerna jika itu terjadi, maka kita telah berbohong besar. Kita hanya butuh Diri-Nya sebagai saksi, dan dengan begitu kita akan memiliki rasa malu untuk tidak melakukan perubahan.

قال الفضيل بن عياض إذا قيل لك هل تخاف الله فاسكت فإنك إن قلت لا كفرت وإن قلت نعم كذبت

”Berkata Fudhail bin ‘Iyaadh : Bila engkau ditanya “Apakah engkau takut pada Allaah?” Diamlah. Karena bila engkau menjawab tidak, engkau menjadi kufur, sedang bila engkau menjawab Ya, engkau telah berbohong (Ihyaa ‘Uluumiddiin II/202).

Cukuplah apa yang dicontohkan Imam Fudhail bin ‘Iyaadh tersebut sebagai teguran dan peringatan akan kebiasaan dusta kita.

Ada diantara kita yang pernah, kadang, sering atau selalu melakukan interopeksi, evaluasi, muhasabah diri (muhasabatun nafsi). Dan ada diantara kita yang pernah, kadang, sering atau selalu melakukan improvement akhlak. Dan orang yang paling pandir adalah kita yang tak pernah melakukan intropeksi atas diri sendiri, namun getol mengorek aib dan kekurangan/kesalahan orang lain.

اَلْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَـهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang cerdas adalah orang yang (senantiasa) mengintrospeksidirinya (bermuhâsabah) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Ibnu Umar rodliyallaahu ‘anh berkata, “Aku datang menemui Nabi Shollallaahu ‘Alayhi wa Sallam bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshor bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rosuulullaah?’ Beliau menjawab :

أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا ِللْمَوْتِ وَأَشَـدُّهُمْ إِسْتِعْدَادًا لَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلأَكْيَاسُ ذَهَبُوْا ِبشَرَفِ الدُّنْيَا وَكَرَامَةِ اْلآخِرَةِ

‘Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat’. ” (HR Ibnu Majah)

Telah jelas bagi kita akan pentingnya evaluasi diri, kerna hal itu merupakan salah satu jalan untuk mengenal diri sendiri. Namun pada kenyataannya tak banyak diantara kita yang bersedia melakukannya, apalagi mengakui akan kehinaan diri, sehingga mengakibatkan hati kian buta.

“Berbagai fitnah akan dihadapkan pada hati bagaikan tikar yang dibentangkan helai demi helai. Mana saja hati yang termakan oleh fitnah tersebut akan ditempeli oleh bintik hitam, dan hati yang tidak tergoda oleh fitnah itu akan ditempeli oleh bintik putih, sehingga ada dua macam hati: hati yang hitam legam bagai cangkir jubung yang miring, yang tidak mengetahui kebaikan dan tidak menolak kemungkaran, ia hanya menurutkan hawa nafsunya dan hati yang putih bersih yang tidak tergoda oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi.” (HR.Muslim)

Di dalam dirimu sesungguhanya ada pintu gerbang untuk mengetahui hakikat kebenaran yang selama ini tersembunyi. Untuk bisa menemukan gerbang itu, singkirkanlah semua kedengkian, amarah, keserakahan, dan berbagai keburukan lainnya dari dalam hatimu. Kemudian, sering-seringlah memasuki alam keheningan, buat pikiran anda diam sejenak, biarkan diri anda berhubungan dengan suara yang ada dalam hati.

Selanjutnya, berusaha untuk senantiasa berbuat baik kepada semua yang ada di sekitar kita, tak terkecuali pepohonan, bebatuan, langit, penghuni langit, tetangga, leluhur, dan semuanya.

Alchamdulillaah

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: