Jgn takut miskin

JANGAN BENCI DENGAN
KEMISKINAN

Ucapkanlah ‘Alhamdulillah’

Aisyah pernah mendengar
Rosulullah SAW berdoa, “Ya ALLAH,
jadikanlah aku hidup sebagai
seorang yang miskin. Cabutlah
nyawaku dalam keadaan miskin.
Lalu kumpulkanlah aku pada hari
Kiamat nanti bersama kelompok
orang-orang miskin”.
Mendengar doa itu, Aisyah
bertanya, “Mengapa engkau
berdoa seperti itu wahai
Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang-orang
miskin akan masuk surga lebih
awal 40 tahun (1 hari = 1000
tahun dunia) daripada orang-
orang kaya. Wahai Aisyah, jangan
pernah menolak orang miskin
meski engkau hanya memberinya
separuh biji kurma” (HR Tirmidzi)
# disaat orang-orang kaya penuh
kekhawatiran, cemas, ketakuatan
menghadapi nasib yg akan
menimpa mereka, orang -orang
miskin sudah menikmati
kenikmatan istana surga
14.600.000 tahun lebih awal
Subhanallah..

Ibham Kandiaz

Iklan

Abajadun

Hitungan abajadun
A = 1 BA = 2 JA = 3 DUN = 4 HA = 5 WA = 6 ZUN = 7 CHA = 8 THO = 9 YA = 10 KUN = 20 LA = 30 MA = 40 NUN = 50 SA = 60 NGA = 70 FA = 80 SUN = 90 QU = 100 RO = 200 SUN = 300 TA = 400 TSA = 500 KHO = 600 DZUN= 700 DLO = 800 DHO = 900 GUN = 1000 Contoh : li = 30 y = 10 cha = 8 yun =10 gun =1000 ri =200 ————– jumlah = 1258 Contoh : ma = 40 y = 10 zun= 7 ————- jumlah = 87

Ibham Kandiaz

Nur Kanjeng Nabi

PENCIPTAAAN NUR NABIYYUNA SAYYIDINA MUHAMMAD

OLEH:Abu Nawas Majdub
Suatu hari Sayidina Ali, karamallahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya,

“Wahai (Nabi) Muhammad, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon katakan padaku apa yang diciptakan Allah Ta’ala sebelum semua makhluk ciptaan?”

Beliau menjawab : “Sesungguhnya, sebelum Rabbmu menciptakan lainnya, Dia menciptakan dari Nur-Nya nur Nabimu.”

Di Hadist yang lain, yang diiiwayatkan dari Abdurrazaq ra yang diterimanya dari Jabir ra, bahwa Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan?”.

Rasulullah saw menjawab : “Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur Nabimu dari Nur-Nya.”

Nur Muhammad itu sudah ada sebelum adanya segala sesuatu di alam ini. Nur Muhammad dianugerahi tujuh lautan : Laut Ilmu, Laut Latif, Laut Pikir, Laut Sabar, Laut Akal, Laut Rahman, dan Laut Cahaya.

Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian Dari bagian pertama Dia menciptakan Pena. dari bagian kedua lawhal-mahfudz, dari bagian ketiga ‘Arsy”.

Kini telah diketahui bahwa ketika Allah menciptakan lawhal-mahfudz dan Pena. Pada pena itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah kemudian memerintahkan Pena untuk menulis, dan Pena bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?”

Allah berfirman, “Tulislah : la ilaha illallah,Muhammadan Rasulullah”.

Atas itu Pena berseru, “Oh, betapa sebuah nama yang indah, agung Muhammad itu bahwa dia disebut bersama Asma Mu yang Suci, ya Allah”.

Allah kemudian berfirman, “Wahai Pena, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan ‘Arsy dan Pena dan lawhal-mahfudz; kamu, juga diciptakan dari Nurnya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun”.

Ketika Allah SWT telah mengatakan kalimat tersebut, Pena itu terbelah dua karena takutnya kepada Allah, dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup/terhalang, sehingga sampai dengan hari ini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia Ilahiah yang agung.

Kemudian Allah memerintahkan Pena untuk menulis “Apa yang harus saya tulis, Ya Allah?” bertanya Pena. Kemudian Rabb al Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan !”.

Berkata Pena, “Ya Allah, apa yang harus saya mulai?”. Berfirman Allah, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini: Bismillah al-Rahman al-Rahim.”

Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Pena bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Kitab (lawh al-mahfudz), dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam 700 tahun.

Ketika Pena telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berfirman “Telah memakan 700 tahun untuk kamu menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh barakah ini saya buat sebagai sebuah hadiah bagi ummat Kekasih-Ku Muhammad. Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana abdi manapun dari ummat ini menyebutkan kata Bismillah dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuk abdi tadi, dan 700 tahun dosa akan Aku hapuskan.”

“Sekarang (selanjutnya), bagaian ke-empat dari Nur itu Aku bagi lagi menjadi empat bagian: Dari bagian pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Singgasana (hamalat al-’Arsy); Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga Singgasana Ilahiah, ‘Arsy); Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat (makhluk) langit lainnya.”

“kemudian bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian: dari bagian pertama Aku membuat semua langit, dari bagian Kedua Aku membuat bumi-bumi, dari bagian ketiga Aku membuat jinn dan api.”

“Bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian : dari bagian pertama Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam jantung mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; dari bagian ketiga cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad), dan dari bagian keempat Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW”.

Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini, dan itu dibentuk sangat (paling) cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati. Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah). Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan, pipinya dari cinta dan kehati-hatian, perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan, kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus dan jantungnya yang mulia dipenuhi dengan rahman.

Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya diberikan risalahnya dan kualitas kenabiannya dipasang. Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh barokah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Ridha Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah) yang murni dan suci.

Kemudian Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dinamakan Syajaratul Yaqin. Tangkainya berjumlah empat. Kemudian diletakanlah Nur Muhammad pada pohon tersebut. Namun, kehadiran Nur Muhammad, itu membuat pohon bergetar hebat hingga berubah menjadi permata putih. Sedangkan Nur Muhammad memuji bertasbih ke hadirat Allah Ta’ala 70.000 tahun lamanya. Pada permata tersebut, Nur Muhammad mencoba bercermin. Wajahnya begitu indah dilihat. Bentuknya seperti burung merak, dan pakaiannya demikian indah. Dihiasi dengan berbagai perhiasan. Kemudian ia bersujud lima kali.

Allah SWT melihatnya, membuat Nur tersebut merasa malu dan takut. Lalu keluar keringat dari kepalanya. Dari keringat tersebut Allah SWT menciptakan nyawa malaikat. Dari keringat wajahnya, diciptakanlah nyawa ‘Arsy, matahari, bulan, bintang, dan apa-apa yang ada di langit. Keringat dadanya menjadi bahan untuk menciptakan nyawa para rasul, nabi, wali, ulama, dan orang orang shaleh. Adapun keringat yang muncul dari keningnya, diciptakanlah nyawa orang-orang mukmin dari umat Nabi Muhammad saw. Dari keringat kedua telinganya, diciptakan oleh Allah SWT nyawa orang-orang Yahudi, Nasrani, dan orang-orang kafir, dan sesat. Sedangkan keringat kakinya di antaranya menjadi isi bumi.

Pada waktu selanjutnya Allah SWT menciptakan lentera akik yang merah yang cahayanya menembus ke dalam dan keluar. Lalu Nur Muhammad dimasukkan ke dalam lentera tersebut. Berada di dalamnya dalam posisi berdiri. Sementara nyawa-nyawa yang sudah tercipta berada di luar. Seluruhnya membaca “Subhanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallahu akbar”. 1.000 tahun lamanya nyawa-nyawa itu diperintahkan Allah SWT untuk melihat ke diri Nur Muhammad.

Nyawa yang berhasil melihat kepala Nur Muhammad, maka ia akan ditakdirkan menjadi pemimpin/penguasa. Siapa yang melihat ubun-ubunnya, itulah mereka yang akan menjadi guru/pendidik yang jujur. Siapa yang melihat matanya, ia akan menjadi hafidz (penghapal Al Quran).

Mereka yang memandang telinganya akan menjadi mereka yang menerima peringatan dan nasehat. Adapun yang bisa melihat hidungngya, mereka itu akan menjadi ahli bicara atau dokter. Sedangkan mereka nyawa-nyawa yang berhasil melihat bibir Nur Muhammad, ia akan ditakdirkan menjadi seorang menteri. Nyawa yang melihat bagian giginya maka wajahnya kelak akan cantik rupawan, ia yang bisa melihat lidahnya, akan jadilah utusan/duta raja-raja. Apabila yang dilihat lehernya, ditakdirkanlah menjadi orang berdagang dan usahawan. Apabila tengkuk yang bisa dilihatnya, akan jadilah seorang tentara. Mereka yang berhasil melihat kedua lengan tangannya, maka akan jadi perwira. Jika sikut kanannya yang dilihat, Allah SWT akan menjadikan dirinya berkehidupan dalam dunia tekstil, sedangkan kalau sikut Kirinya, ia akan menjadi orang yang pernah membunuh. Serta, jika dadanya yang berhasil dilihat, maka ia akan menjadi ulama yang disegani. Bila bagian belakang, ia akan ditakdirkan menjadi para ahli sosial kemasyarakatan. Dan jika hanya bayangannya yang berhasil dilihat, maka ia akan menjadi orang yang berkecimpung dalam bidang seni.

Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh barokah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut. Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur suatu kebutuhan hidup).

Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang calligrapher, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi. Siapa yang melihat dadanya yang penuh barokah akan menjadi seorang terpelajar meninggalkan keduniaan (ascetic) dan berilmu.

Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum syari’at. Siapa yang melihat sisi badannya yang penuh barokah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi mereka yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh barokah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi mereka yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute).

Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum takberiman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi mereka yang akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrudz, Firaun, dan sejenisnya.

Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris. Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul, a.s, di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat, di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki – laki dan perempuan. Di baris ke empat berdiri ruh kaum tak beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di hadhirat Allah SWT sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik. Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh barokah Nabi Muhammad sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.

Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril , “Berapa lama sejak engkau diciptakan?” Malaikat itu menjawab, “Ya Rasulullah, saya tidak tahu jumlah tahunnya, yang saya tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah: sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali.”

“Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” bertanya Nabi Muhammad SAW

“Tidak, saya tidak tahu,” berkata malaikat itu.

“Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh, jawab Nabi Suci SAW”.

Pertimbangkan kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70.000 dikalikan 12.000 !

Masih ragukah kita dengan kemuliyaan Rasulullah?

catatan :Haqiqotul Almuhammadiyah

Ibham Kandiaz

Nasehat Nabi Khidir As

NASIHAT NABI KHIDIR UNTUK NABI MUSA

Nabi Musa a.s.berkata kepada Khidir,”Berilah aku nasihat!” Maka, Khidir pun memberi nasihat:
1.”Jadilah orang yang banyak senyum dan jangan jadi orang yang banyak marah.

2.Jadilah orang yang banyak manfaat bagi sesama,dan jangan jadi orang yang banyak mudaratnya.

3.Jauhilah sikap keras hati dalam berdiskusi.

4.Jangan berjalan tanpa keperluan.

5.Jangan tertawa tanpa sesuatu yang benar-benar mengagumkan.

6.Jangan memperolok-olok orang yang bersalah atas kesalahan mereka,tapi menangislah atas
kesalahan-kesalahan kamu sendiri,wahai putra Imran.”

—Dikutip dari Kitab At-Taubah,Ihya Ulumuddin,karya Imam Ghazali. —

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Tawakkal pada Allah sprti anak kecil

TAWAKAL KEPADA ALLAH SEPERTI ANAK KECIL

Ibnu Athaillah mengatakan, “Ada yang berkata, ‘Bersikaplah kepada Allah seperti anak kecil kepada ibunya. Setiap kali ditolak sang ibu, ia tetap bersimpuh di hadapannya karena tidak mengenal selainnya.'”
–Ibnu Atha’illah dalam Taj Al-‘Arus
Sikap semacam ini sama dengan tingkatan tawakal kepada Allah, yaitu ketika seorang hamba bersikap kepada Allah seperti anak kecil kepada ibunya. Ia tidak mengenal orang lain selain ibunya sehingga ia tidak meminta pertolongan kecuali darinya, serta tidak bersandar kecuali kepadanya.

Ketika melihat sang ibu, ia akan terus membuntutinya. Ketika mendapat kesulitan di saat ibunya tidak ada, kata pertama yang diucapkan lisannya adalah “Ibu!” Dan yang terlintas pertama kali dalam benaknya adalah sosok ibunya. Hanya kepada ibunyalah ia mengadu.

Si anak sangat meyakini pemeliharaan, perlindungan, jaminan, dan kasih sayang ibunya.

Jika anak kecil itu diminta menjelaskan sikapnya yang terikat kepada ibunya, ia mampu untuk menuturkannya. Namun, sikap dan perilakunya itu berada dalam kesadaran dan pengetahuannya.

Sama halnya, pikiran orang yang bertawakal kepada Allah akan selalu tertuju kepada-Nya.

Ia juga akan selalu mencari dan mendekati-Nya, kemudian bersandar dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Ia pasti mencintai Allah sebagaimana anak kecil mencintai ibunya.

Itulah pengertian dan hakikat tawakal. Seorang hamba semestinya bertawakal kepada Allah sebagaimana seorang anak kecil tawakal kepada ibunya.

(Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Al-Din)

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW

Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW
Lengkap- Nabi Muhammad SAW merupakan
nabi terakhir yang di utus ke muka bumi ini.
Setelah nabi Muhammad SAW tidak ada nabi
lagi setelahnya. Nabi Muhammad SAW adalah
panutan atau teladan bagi umat Islam. Tanpa
jasa dan usahanya mungkin sampai saat ini kita
tidak akan pernah memeluk agama Islam.
Berikut ini sekelumit kisahnya yang harus kita
ketahui:
1. Masa Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan
Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah
Pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW
terdapat kejadian yang luar biasa yaitu ada
serombongan pasukan Gajah yang dipimpin Raja
Abrahah (Gubernur kerajaan Habsyi di Yaman)
hendak menghancurkan Kakbah karena negeri
Makkah semakin ramai dan bangsa Quraisy
semakin terhormat dan setiap tahunnya selalu
padat umat manusia untuk haji. Ini membuat
Abrahah iri dan Abrahah berusaha
membelokkan umat manusia agar tidak lagi ke
Makkah. Abrahah mendirikan gereja besar di
Shan’a yang bernama Al-Qulles. Namun tak
seorang pun mau datang ke gereja Al Qulles itu.
Abrahah marah besar dan akhirnya
mengerahkan tentara bergajah untuk
menyerang Kakbah. Didekat Makkah pasukan
bergajah merampas harta benda penduduk
termasuk 100 ekor Unta Abdul Muthalib
Dengan tak disangka Abdul Munthalib
kedatangan utusan Abrahah supaya menghadap
ke Abrahah. Yang pada akhirnya Abdul
Munthalib meminta Untanya untuk
dikembalikan dan bersedia mengungsi bersama
penduduk dan Abdul Munthalib berdo’a kepada
Allah supaya Kakbah diselamatkan.
Keadaan kota Makkah sepi tentara Abrahah
dengan leluasa masuk Makkah dan siap untuk
menghancurkan Kakbah. Allah SWT mengutus
burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil
dengan paruhnya. Kerikil itu dijatuhkan tepat
mengenai kepala masing-masing pasukan
bergajah tersebut hingga tembus ke badan
sampai mati. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-
Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5).
Pasukan bergajah hancur lebur mendapat adzab
dari Allah SWT.
Pada masa itu lahir bayi yang diberi nama
Muhammad dari kandungan ibu Aminah dan
yang ber-ayahkan Abdullah. Muhammad lahir
sudah yatim karena saat nabi Muhammad SAW
masih dalam kandungan ayahnya sudah
meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW lahir
pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah dan
bertepatan tanggal 22 April 571 M.
2. Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah
Pada zaman kelahiran nabi Muhammad SAW
masyarakat Makkah mempunyai kebiasaan
jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah patung
atau berhala. Jahiliyah artinya zaman
kebodohan. Yang disembah bukan Allah tetapi
patung atau berhala dan kebiasaannya sangat
buruk yaitu mabuk, berjudi, maksiat dan
merendahkan derajat wanita. Mereka hidup
berpindah-pindah dan terpecah dalam suku-
suku yang disebut kabilah. Hidup serba bebas
tidak ada aturan dalam bermasyarakat. Sehingga
kehidupan sangat kacau balau.
Nah, di saat kekacaubalauan masyarakat
Makkah itu lahir Nabi Muhammad SAW sebagai
Rahmat bagi seluruh alam.
3. Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad SAW
hingga Masa Kerasulannya
Kebiasaan di kalangan pemuka pada saat itu
apabila mempunyai bayi, maka bayi yang baru
lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan.
Dengan tujuan agar dapat menghirup udara
segar dan bersih serta untuk menjaga kondisi
tubuh ibunya agar tetap sehat.
Menurut riwayat, setelah Muhammad dilahirkan
disusui oleh ibunya hanya beberapa hari saja,
Tsuaibah menyusui 3 hari setelah itu oleh Abdul
Munthalib disusukan kepada Halimah Sa’diyah
istri Haris dari kabilah Banu Saad.
Semenjak kecil Muhammad memiliki
keistimewaan yaitu badannya cepat besar, umur
5 bulan sudah dapat berjalan dan umur 9 th
sudah lancar berbicara serta umur 2 th sudah
menggembalakan kambing dan wajahnya
memancarkan cahaya.
Muhammad diasuh Halimah selama 6 th. Pada
usia 4 th Muhammad didekati oleh malaikat
Jibril dan menelentangkannya lalu membelah
dada dan mengeluarkan hati serta segumpal
darah dari dada nabi Muhammad SAW lalu Jibril
mencucinya kemudian menata kembali ke
tempatnya dan Muhammad tetap dalam keadaan
bugar.
Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu,
Halimah khawatir dan mengembalikan
Muhammad ke ibundanya. Pada usia 6 th nabi
diajak Ibunya untuk berziarah ke makam
ayahnya di Yatsrib dengan perlalanan 500 km.
Dalam perjalanan pulang ke Makkah Aminah
sakit dan akhirnya meninggal di Abwa yang
terletak antara Makkah dan Madinah.
Nabi Muhammad lantas ditemani Ummu Aiman
ke Makkah dan diantarkan ke tempat kakeknya
yaitu Abdul Munthalib. Sejak itu Nabi menjadi
yatim piyatu tidak punya ayah dan ibu. Abdul
Munthalib sangat menyayangi cucunya ini
(Muhammad) dan pada usia 8 th 2 bl 10 hari
Abdul Munthalib wafat. Kemudian Nabi diasuh
oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.
Abu Thalib mengasuh menjaga nabi sampai
umur lebih dari 40 th. Pada usia 12 th nabi diajak
Abu Thalib berdagang ke Syam. Di tengah
perjalanan bertemu dengan pendeta Bahira.
Untuk keselamatan nabi Bahira meminta abu
Thalib kembali ke Makkah.
Ketika Nabi berusia 15 th meletus perang Fijar
antara kabilah Quraisy bersama Kinanah dengan
Qais Ailan. Nabi ikut bergabung dalam perang
ini dengan mengumpulkan anak-anak panah
buat paman-paman beliau untuk dilemparkan
kembali ke musuh.
Pada masa remajanya Nabi Muhammad biasa
menggembala Kambing dan pada usia 25 th
menjalankan barang dagangan milik Khadijah ke
Syam. Nabi Muhammad SAW dipercaya untuk
berdagang dan ditemani oleh Maisyarah. Dalam
berdagang nabi SAW jujur dan amanah serta
keuntungannya melimpah ruah.
Peristiwa tentang cara dagangnya nabi SAW itu
diceritakan Maisyarah ke Khadijah. Lantas
Khadijah tertarik dan mengutus Nufaisah Binti
Mun-ya untuk menemui Nabi agar mau menikah
dengan Khadijah. Setelah itu Nabi
memusyawarahkan kepada pamannya dan
disetujuinya akhirnya Khadijah menikah dengan
Nabi Muhammad SAW dengan mas kawin 20
ekor Onta Muda.
Usia Khadijah waktu itu 40 th dan Nabi
Muhammad SAW 25 th. Dalam perkawinannya
Nabi dianugerahi 6 putra-putri yaitu Qasim,
Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan
Fatimah. Semua anak laki-laki nabi wafat waktu
masih kecil dan anak perempuannya yang masih
hidup sampai nabi wafat adalah Fatimah.
Masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW
Pada usia 35 th lima tahun sebelum kenabian ada
suatu peristiwa yaitu Makkah dilanda banjir
besar hingga meluap ke baitul Haram yang dapat
meruntuhkan Kakbah. Dengan peristiwa itu
orang-orang Quraisy sepakat untuk
memperbaiki Kakbah dan yang menjadi arsitek
adalah orang Romawi yang bernama Baqum.
Ketika pembangunan sudah sampai di bagian
Hajar Aswad mereka saling berselisih tentang
siapa yang meletakkan hajar Aswad ditempat
semula dan perselisihan ini sampai 5 hari tanpa
ada keputusan dan bahkan hampir terjadi
peretumpahan darah. Akhirnya Abu Umayah
menawarkan jalan keluar siapa yang pertama
kali masuk lewat pintu Masjid itulah orang yang
memimpin peletakan Hajar Aswad. Semua pada
sepakat dengan cara ini. Allah SWT
menghendaki ternyata yang pertama kali masuk
pintu masjid adalah Rasulullah SAW dan yang
berhak adalah Rasulullah.
Orang-orang Quraisy berkumpul untuk
meletakkan Hajar Aswad . Rasulullah meminta
sehelai selendang dan pemuka-pemuka kabilah
supaya memegang ujung-ujung selendang lalu
mengangkatnya bersama-sama. Setelah
mendekati tempatnya Nabi mengambil Hajar
Aswad dan meletakkannya ke tempat semula
akhirnya legalah semua. Mereka pada berbisik
dan menjuluki “Al-Amin” yang artinya dapat
dipercaya.
Nabi Muhammad SAW mempunyai kelebihan
dibanding dengan manusia biasa, beliau sebagai
orang yang unggul, pandai, terpelihara dari hal-
hal yang buruk, perkataannya lembut, akhlaknya
utama, sifatnya mulia, jujur terjaga jiwanya,
terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, tepat
janji, paling bisa dipercaya sehingga mendapat
julukan Al-Amin dan beliau juga membawa
bebannya sendiri, memberi kepada orang
miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun
yang hendak menegakkan kebenaran.
Pada saat Nabi Muhammad SAW hampir berusia
40 th kesukaannya mengasingkan diri dengan
berbekal Roti dan pergi ke Gua Hira di Jabal Nur.
Rasulullah di Gua Hira beribadah dan
memikirkan keagungan alam. Pada usia genap
40 th Nabi dianggkat menjadi Rasul. Beliau
menerima wahyu yang pertama di gua Hira
dengan perantaraan Malaikat jibril yaitu surat
Al-Alaq ayat 1-5.
Ketika Nabi berada di gua Hira datang malaikat
Jibril dan memeluk Nabi sambil berkata
“Bacalah”. Jawab Nabi “Aku tidak dapat
membaca” Lantas Malaikat memegangi dan
merangkul Nabi hingga sesak kemudian
melepaskannya dan berkata lagi “Bacalah”.
Jawab Nabi”Aku tidak bisa membaca”. Lantas
Malaikat memegangi dan merangkulnya lagi
sampai ketiga kalinya sampai Nabi merasa sesak
kemudian melepasknnya. Lalu Nabi bersedia
mengikutinya (Surat Al-Alaq ayat 1-5). QS 96 :
1-5)
Rasulullah mengulang bacaan ini dengan hati
yang bergetar lalu pulang dan menemui
Khadijah (isterinya) untuk minta diselimutinya.
Beliau diselimuti hingga tidak lagi menggigil tapi
khawatir akan keadaan dirinya.
Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan
menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi.
Waraqah menanggapi “Maha suci, Maha suci, Dia
benar-benar nabi umat ini, katakanlah
kepadanya, agar dia berteguh hati.
4. Rasulullah Berdakwah
Rasulullah SAW di kala mengasingkan diri di
Gua Hira dengan perasaan cemas dan khawatir
tiba-tiba terdengan suara dari langit, beliau
menengadah tampak malaikat jibril. Beliau
menggigil, ketakutan dan pulang minta kepada
isterinya untuk menyelimutinya. Dalam keadaan
berselimut itu datang Jibril menyampaikan
wahyu yang ke dua yaitu surat Al Muddatsir (QS
74 ayat 1-7).
Dengan turunnya wahyu ini Rasulullah SAW
mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam
dan mengajak umat manusia menyembah Allah
SWT.
1). Menyiarkan Agama Islam Secara
Sembunyi-Sembunyi
Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu kedua
mulailah beliau dakwah secara sembunyi-
sembunyi dengan mengajak keluarganya dan
sahabat-sahabat beliau seorang demi seorang
masuk Islam.
Orang-orang yang pertama-tama masuk
Islam adalah:
a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)
b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)
c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)
d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi
SAW)
Orang-orang yang masuk Islam dengan
perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:
a). Utsman Bin Affan
b). Zubair Bin Awwam
c). Saad Bin Abi Waqqash
d). Abdurahman Bin Auf
e). Thalhah Bin “Ubaidillah
f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah
g). Arqam Bin Abil Arqam
h). Fatimah Binti Khathab
Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal
Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu
dan yang pertama-tama masuk Islam dan
mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari
Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil
Arqam.
2). Menyiarkan Agama Islam Secara Terang-
Terangan
Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW dakwah
secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke
rumah lainnya. Kemudian turun surat Al Hijr: 94
(QS 15 ayat 94). Artinya”Maka sampaikanlah
secara terang-terangan segala apa yang telah
diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari
orang-orang musyrik (QS Al Hijr : 15). Dengan
turunnya ayat ini Rasulullah SAW menyiarkan
dakwah secara terang-terangan dan
meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Agama
Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang
ramai dikalangan masyarakat Makkah. Islam
semakin meluas dan pengikutnya semakin
bertambah.
5. Bagaimana tanggapan orang-orang
Quraisy?
Orang-orang quraisy marah dan melarang
penyiaran islam bahkan nyawa Rasul terancam.
Nabi beserta sahabatnya semakin kuat dan
tangguh tantangan dan hambatan dihadapi
dengan tabah serta sabar walaupun ejekan,
cacian, olok-olokan dan tertawaan, menjelek-
jelekkan, melawan al-Qur’an dan memberikan
tawaran bergantian dalam penyembahan.
Dakwah secara terangan ini walaupun banyak
tantangan banyak yang masuk Agama Islam dan
untuk penyiaran Islam Nabi SAW ke Habasyah
(Etiopia),Thaif, dan Yatsrib (Madinah). Sehingga
Islam meluas dan banyak pengikutnya.
Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW th
ke 10 pada saat “Amul Khuzni”artinya tahun
duka cita yaitu Abu Thalib (pamannya wafat)
dan siti Khadijah (istri nabi juga wafat) serta
umat Islam pada sengsara. Ditengah kesedihan
ini Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat
Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan
dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram dan dari
Masjidil Haram menuju ke Sidratul Muntaha
untuk menghadap Allah SWT untuk menerima
perintah shalat lima waktu.
6. Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik.
Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi
Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah
SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran
yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu,
kita sebagai muslim harus meniru dan
mencontoh kepribadian beliau. Sebagaimana
Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21
yang berbunyi:
Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri
Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu
bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT
dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS Al Ahzab:21).
Untuk dapat meneladani Rasulullah SAW harus
banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits.
Sebagai salah satu contoh saja yaitu tentang
kejujuran dan amanah atau dapat dipercayanya
nabi Muhammad SAW.
7. Sifat Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik
yaitu:
1). Siddiq
Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin
Rasulullah bersifat bohong (kidzib) Rasulullah
sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun
perkataannya. Apa yang dikatakan dan
disampaikan serta yang diperbuat adalah benar
dan tidak bohong. Karena akhlak Rasulullah
adalah cerminan dari perintah Allah SWT.
2). Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya. Sangat tidak
mungkin Rasulullah bersifat Khianat atau tidak
dapat dipercaya. Rasulullah tidak berbuat yang
melanggar aturan Allah SWT. Rasulullah taat
kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan
risalah sesuai dengan petunjuk Allah SWT tidak
mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT
maupun kepada umatnya.
3). Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Rasulullah
sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan
(kitman). Setiap wahyu dari Allah disampaikan
kepada umatnya tidak ada yang ditutup- tutupi
atau disembunyikan walaupun yang
disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan
tradisi orang kafir. Rasulullah menyampaikan
risalah secara sempurna sesuai dengan perintah
Allah SWT.
4). Fathonah
Fathonah artinya cerdas. Sangat tidak mungkin
Rasul bersifat baladah atau bodoh. Para Rasul
semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan
wahyu yang telah diterima dari Allah SWT. Rasul
adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat
tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh
bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.
8. Haji Wada’ Rasulullah SAW
Pada tahun 10 H, nabi Muhammad SAW
melaksanakan haji yang terakhir yautu haji
wada’. Sekitar 100 ribu jamaah yang turut serta
dalam ibadah haji bersama beliau. Pada saat
wukuf di arafah Nabi SAW menyampaikan
khutbahnya dihadapan umatnya yaitu yang
berisi pelarangan melaksanakan penumpahan
darah kecuali dengan cara yang benar, melarang
mengambil harta orang lain dengan cara yang
tidak benar, melarang makan makanan yang riba
dan menganiaya, hamba sahaya harus
diperlakukan dengan baik, dan umatnya supaya
berpegang teguh dengan Al Qur’an dan sunah
Nabi SAW.
Dalam surat Al Maidah ayat 3 telah diungkapkan
bahwa:
Artinya: “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan
untukmu agamamu, dan sungguh telah Aku
cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku
ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al Maidah
(5) : 3).
Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah nabi
Muhammad SAW telah sempurna. Nabi
Muhammad SAW dakwah selama 23 tahun. Pada
suatu hari beliau merasa kurang enak badan,
badan beliau semakin tambah melemah, beliau
menunjuk Abu Bakar sebagai imam pengganti
beliau dalam shalat. Pada tanggal 12 Rabiul
Awwal tahun 11 Hijriyah beliu wafat dalam usia
63 tahun.
B. Nabi Muhammad SAW Rahmatan Lil
‘Alamin
Nabi Muhammad SAW adalah nabi
akhiruzzaman yaitu nabi yang terakhir di dunia
ini. Maka setelah nabi Muhammad Saw tidak ada
nabi lagi di dunia ini. Allah SWT mengutus nabi
Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘Alamin
yaitu untuk semua manusia dan bangsa. Nabi
Muhammad Saw diutus untuk memberikan
bimbingan kepada manusia agar menjalani
hidup yang benar sehingga dapat memperoleh
kebahagiaan di dunia maupun di akherat.
Misi Nabi Muhammad SAW
Misi yang dibawa nabi Muhammad SAW adalah
cerminan atau panutan bagi seluruh umat
manusia yaitu sebagai berikut:
a. Menyiarkan agama Islam
Islam disiarkan atau didakwahkan Rasulullah
SAW secara sempurna terhadap umat manusia
yaitu selama 23 tahun.
b. Menyampaikan wahyu Allah SWT
Wahyu Allah SWT yaitu berupa Al Qur’an. Al
Qur’an ini di dakwahkan kepada umat manusia
dan bangsa sebagai pedoman hidup.
c. Menyampaikan kabar gembira dan
peringatan kepada umat manusia
d. Menyempurnakan akhlak yaitu akhlak
Qurani
Misi nabi Muhammad SAW tidak hanya
dikalangan kaum tertentu saja akan tetapi
Rasulullah SAW diutus untuk seluruh kaum dan
bangsa dan ajarannya berlaku untuk seluruh
umat manusia sepanjang masa. Dari berbagai
sumber

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abi Thalib
“Ali” beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Ali, lihat Ali (disambiguasi).
Khalifah Islam Ke-4Ali
Khalifah Ar-Rasyidin
LahirAli bin Abi Thalib
599
Mekkah, Jazirah Arab (Sekarang Saudi Arabia)
Meninggal28 Januari 661
Tempat peristirahatanNajaf, Irak
Dikenal karenaSahabat Nabi Muhammad
AgamaIslam
‘Alī bin Abī Thālib (Arab: علي بن أﺑﻲ طالب, Persia: علی پسر ابو طالب)‎ (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661), adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.
SembunyikanPerbedaan pandangan mengenai pribadi Ali bin Abi Thalib

Syi’ah

Bagian dari artikel tentang
Imam Syi’ah
Dua Belas Imam

Ali bin Abi Thalib
Hasan al-Mujtaba
Husain asy-Syahid
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Musa al-Kadzim
Ali ar-Ridha
Muhammad al-Jawad
Ali al-Hadi
Hasan al-Askari
Muhammad al-Mahdi

lihat • bicara • sunting
Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Syi’ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.

Sunni

Sebagian Sunni yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Umayyah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan Sahabat Nabi yang lain.

Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.

Sufi

Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.

Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu al-hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja’far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.

Tutup bagian ini
SembunyikanRiwayat Hidup

Kelahiran & Kehidupan Keluarga

Kelahiran

Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.

Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar,[rujukan?] Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi(derajat di sisi Allah).

Kehidupan Awal

Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.

Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi’ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.

Masa Remaja

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah ‘Ihsan’) atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.

Karena bila ilmu Syari’ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.

Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.

Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah

Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.

Kehidupan di Madinah

Perkawinan

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.

Julukan

Ketika Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, “Duduklah wahai Abu Turab, duduklah.” Turab yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah julukan yang paling disukai oleh Ali.

Pertempuran yang diikuti pada masa Nabi saw

Perang Badar

Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.

Perang Khandaq

Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud . Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Perang Khaibar

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Peperangan lainnya

Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.

Setelah Nabi wafat

Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi’ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.

Menurut riwayat dari Al-Ya’qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada’),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama “GHADIR KHUM.” Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain beliau berkata : “Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya”

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai’at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai’at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Sebagai khalifah

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Pertempuran Basra. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Pertempuran Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

%d blogger menyukai ini: