Pondok Buntet Pesantren Cirebon

BUNTET PESANTREN
1.     Pondok Pesantren Buntet

Pondok Pesantren Buntet berada di Blok Manis Depok Pesantren, Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon. Letak Desa Mertapada Kulon adalah 12 Km ke arah Selatan dari Kota Cirebon; 26 Km ke arah Timur dari Ibu Kota Kabupaten Cirebon. Kedudukan Pesantren Buntet berada di antara empat perbatasan yaitu sebelah Barat, berbatasan dengan Desa Munjul; sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cimanis Desa Buntet; sebelah Timur berbatasan dengan Kali Anyar; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Blok Kiliyem Desa Sida Mulya.

Lokasi Pesantren Buntet, dapat dikategorikan sebagai tempat yang strategis dan sangat mudah dijangkau dengan menggunakan kendaraan jenis apapun. Lantaran jalan yang menuju ke lokasi itu, sejak lama terlewati kendaraan umum (bus, elf dan truk) dari Ciledug menuju ke Cirebon; bahkan bus atau truk dari arah Jawa Tengah menuju ke Jakarta (melalui jalan alternatif) dapat melewati jalan raya Mertapada Kulon (Desa di mana terdapat Pesantren Buntet).

2.     Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Buntet

a.  Sejarah Pondok Pesantren Buntet

Untuk mengungkapkan siapa, kapan dan bagaimana berdirinya pondok pesantren Buntet, penulis memperoleh data tertulis kemudian disempurnakan melalui informasi lisan dari kiyai pengelola pondok esantren Buntet. Data tertulis mengungkapkan, pondok pesantren Buntet didirikan oleh Kiyai Muqayim pada tahun 1758. Pada awalnya, mbah Muqayim (sebutan untuk Kiyai Muqayim bagi anak cucunya) membuka pengajian dasar-dasar al-quran, bagi masyarakat Desa Dawuan Sela (1 Km ke sebelah Barat dari Desa Mertapada Kulon (lokasi pondok pesantren Buntet sejak tahun 1750-an). Tempat berlangsungnya pengajian itu adalah sebuah Panggung Bilik Bambu ilalang yang di dalamnya terdapat beberapa kamar tidur atau pondokan yang dindingnya terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari pohon ilalang (sejenis rumput yang tinggi).

Informasi lisan menyebutkan, mbah Muqayim adalah seorang pejuang yang selama hidupnya selalu dikejar-kejar tentara Belanda sehingga ia selalu berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain dalam upaya mencari perlindungan hingga ia menemukan “daerah aman” dari kejaran tentara Belanda. Sehingga ia menemukan sebuah daerah, dan di situlah mendirikan sebuah bangunan untuk “tempat berlindung” dari kejaran tentara Belanda. Bangunan yang yang berukuran 8 x 12 M itulah di kemudian hari dikenal dengan sebutan “Buntet” yang berarti tempat perlindungan. Di dalam “Buntet” itu, mbah Muqayim membuat mushalla yang berfungsi sebagai tempat shalat dan pendidikan keagamaan tersebut bertempat di suatu daerah yang kemudian terkenal sebagai daerah Buntet. Namun, tidak lama kemudian tempat persembunyian itu ditemukan lagi oleh tentara Belanda sehingga tempat itu dibakar. Mbah Muqayyim bersama beberapa santrinya berhasil meloloskan diri, pergi menuju ke arah timur untuk beberapa saat, kemudian beliau kembali lagi ke “wilayah Buntet” sebelah utara (konon, wilayah ini kemudian menjadi desa Buntet), di sini beliau mendirikan pondokan.

Beberapa saat kemudian, pondokan yang baru didirikan ini berhasil ditemukan tentara Belanda langsung menyerbu dan langsung membakarnya. Pada serbuan kedua kalinya ini, banyak santri yang gugur terbakar. Peristiwa gugurnya beberapa santri ini, diabadikan oleh masyarakat Buntet melalui sebuah area tanah “kuburan santri” yang dianggap suci. Beberapa santri yang selamat, diajak mbah Muqayim pergi menuju ke Desa Dawuan Sela, di sini beliau membuat sebuah gubug yang dindingnya terbuat dari bambu dan daun ilalang sebagai atapnya. Di dalam gubug inilah terjadinya proses pengajian dasar-dasar al-quran dan kitab Fath-hul Mu’in. Di Desa Dawuan Sela inilah mbah Muqayyim merasakan aman baik dari kejaran tentara Belanda maupun dalam mengamalkan ilmunya, hingga beberapa tahun kemudian keberadaan “Pondok Pesantren Pemula” ini diserahkan kepada K. Muta’ad (menantu R. Muhammad anak mbah Muqayim). Sementara mbah Muqayyim sendiri memilih menjadi mufthi hingga akhir hidupnya di daerah Beji (Pemalang, Jawa Tengah). Sebelum kepergiannya ke Beji, beliau menyerahkan kepemimpinan pondok pesantrennya kepada K. Muta’ad yang juga salah seorang putra Kasepuhan Cirebon dan pernah menjadi penghulu Keresidenan Cirebon. Konon, serah-terima kepemimpinan Buntet Pesantren ini terjadi pada 1785.

b. Profil Kiyai

1.      Mbah Muqayim

Mbah Muqayim adalah cucu Kiyai Abdul Hadi, lahir di Kampung Srengseng Desa Kerankeng Kecamatan Karangampel Kabupaten Indramayu (tidak ditemukan informasi kapan mbah Muqayim dilahirkan). Informasi lain menyebutkan, mbah Muqayim adalah salah seorang keturunan dari Kesultanan Cirebon hasil pernikahan dengan wanita (anak kesra desa Kerangkeng) tetapi tidak pernah tinggal di lingkungan keraton. Hanya saja sejak beliau berusia anak-anak hingga remaja, selalu memperoleh pengawasan, perlindungan, pendidikan dan kesehatan yang memadai dari kesultanan. Ia memperoleh pengetahuan agama, pengetahuan umum dan ilmu kanuragan (kekebalan tubuh) melalui beberapa guru yang sengaja didatangkan dari kesultanan.

Pernyataan di atas diperkuat dari informasi yang menyebutkan bahwa salah seorang istri mbah Muqayim adalah putri keraton, begitu juga dengan salah seorang cucu menantunya adalah keturunan kesultanan Cirebon. Beliau juga salah seorang pegawai kerajaan yaitu sebagai qadli di kesultanan Cirebon, walaupun jabatan itu kemudian ditinggalkannya setelah ia mengetahui bahwa sultannya bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Sikap meninggalkan keraton kesultanan yang dilakukan mbah Muqayim, bukan karena ia menentang kesultanan Cirebon melainkan karena ia tidak setuju dengan sikapnya yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda. Ini menunjukkan bahwa, mbah Muqayim adalah seorang patriotik yang tidak mau kompromi dengan penjajah. Salah satu bukti bahwa mbah Muqayim adalah seorang pejuang, Keterangan ini menunjukkan bahwa, mbah Muqayim adalah salah seorang pejuang yang selalu menantang penjajah Belanda. Bukti lain bahwa ia seorang pejuang adalah, keterlibatannya (bersama Ardisela) pergi menuju ke Aceh untuk membantu masyarakat Aceh melawan tentara Belanda. Keterlibatannya dalam membela masyarakat Aceh dari penjajah Belanda, mbah Muqayim diberi hadiah sebilah rencong dari masyarakat Aceh yang hingga kini (rencong itu) masih tersimpan di Beji (Pemalang, jawa Tengah).

Informasi menyebutkan bahwa, mbah Muqayyim adalah seorang pejuang (juga seorang dai) atau mungkin sebagai taktik dalam menghadapi penjajah, beliau hidup selalu berpindah-pindah dari satu desa ke Desa lain. Sejak ia meninggalkan jabatannya sebagai qadli di Kesultanan Cirebon, ia mendirikan pondok pesantren di Desa Kaduwela. Setelah pondoknya diketahui Belanda dan dibakar, ia bersama-sama dengan beberapa santrinya pergi ke Beji (Pemalang, Jawa Tengah) ia juga mendirikan pondok pesantren, kemudian ia kembali lagi ke Cirebon; ia menetap di sebuah Desa (Pasawahan) untuk beberapa saat kemudian bertemu dengan Ki Ardisela di Desa Tuk (di sini ia menetap untuk beberapa saat). Terakhir dari perjalanannya, mbah Muqayyim beserta para santrinya kembali dan menetap bersama anak cucunya di Buntet Pesantren yakni di Desa Mertapada Kulon.

a) Mbah Muqayyim di Beji

Kepergian mbah Muqayim beserta para santrinya ke arah timur, tempat pertama kali yang disinggahinya adalah sebuah desa yang disebutnya “Beji” yang berarti Lebe Siji. Desa ini bernama Kenanga, tetapi karena di daerah inilah (dari beberapa daerah) ada seorang lebe atau “satu lebe” (bahasa jawa: lebe siji) yang bernama Abdul Salam (Salamuddin) berkenan menerima mbah Muqayim beserta para santrinya, sehingga mbah Muqayim menamakan daerah ini dengan nama Beji.

Selama bermukim di Desa Beji, beliau berlaku sebagaimana lajimnya pendatang yang menumpang di suatu tempat; beliau selalu membantu pekerjaan-pekerjaan (lebe) Abdul Salam. Ia tawadu suka menolong dan membantu orang lain. Suatu keanehan bagi masyarakat Beji yang memperhatikannya yaitu, beliau selalu mengunjungi tempat-tempat tertentu yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap dan dirasakan sebagai tempat yang tidak akan selamat bagi yang mengunjunginya, namun beliau terbiasa keluar masuk ke tempat itu. Keajaiban lain yang terlihat oleh masyarakat yang melihatnya adalah, pada suatu malam ketika beliau tidur di Mushalla tubuhnya memancarkan cahaya terang menjulang tinggi ke atas dan menyinari daerah yang ada di sekelilingnya sehingga membuat terpesona yang menakjubkan.

Di Beji, mbah Muqayyim beserta para santrinya membuka hutan Padurungan yang kemudian didirikanlah Mushalla dan Masjid serta Pesantren. Di lokasi itulah kemudian para santri berdatangan dari berbagai daerah sekitarnya untuk berguru dan mengaji. Tidak ada informasi yang menyebutkan, dari tahun berapa sampai tahun berapa mbah Muqayyim berada di Beji kecuali informasi yang menyebutkan bahwa sebelum mbah Muqayyim kembali ke Cirebon, beliau dinikahkan dengan salah seorang putri lebe Abdul Salam. Melalui anak cucunya, hingga kini, sebuah pesantren masih tegak berdiri dan tersimpan sebuah rencong kenangan dari masyarakat Aceh.  Suatu kebesaran Allah, makam lebe Abdul Salam yang terletak di pinggir sungai yang selalu banjir dan tergenang air pasang, sampai saat ini masih tetap utuh tidak rusak atau hanyut. Petilasannya di daerah tersebut, masih dapat disaksikan.

b) Mbah Muqayyim di Pasawahan

Mbah Muqayim, selain menjabat sebagai qadli Kesultanan Cirebon (Sultan Muhammad Khaeruddin I, Sultan Kanoman) juga terkenal sebagai seorang mufti. Sultan Kanoman mempunyai salah seorang putra bernama Muhammad Khaeruddin II (lahir 1777), ketika ia mendengar bahwa ayahnya bekerja sama dengan pemerintah Belanda bertekad meninggalkan keraton Kesultanan dan mengikuti mbah Muqayim yang ketika itu berada di Pesawahan Sindanglaut.

Muhammad Khaeruddin II berguru ilmu agama dan ilmu kanuragan (teknik beladiri) kepada mbah Muqayyim. Berkat kecerdasan, ketekunan dan kerajinannya, ia tercatat sebagai salah seorang murid yang mencapai derajat yang terpercaya karena itu ia memperoleh sebutan “Pangeran Santri”. Ilmu kenuragan atau ilmu kadigjayaan yang dimiliki Khaeruddin II, berkali-kali teruji ketika berhadapan dengan tentara Belanda dan berhasil memperdayakannya. Pemerintah Belanda begitu mendengar bahwa orang yang selalu memperdaya pasukannya adalah Muhammad Khaeruddin II yang bermukim di Pesawahan beserta mbah Muqayim, pemerintah Belanda memutuskan untuk menangkapnya. Karena itu, sasaran pemerintah Belanda tidak hanya menangkat mbah Muqayim yang selama ini dikejar-kejarnya, melainkan juga Muhammad Khaeruddin II yang selalu bersama dengan mbah Muqayim dan Ki Ardisela. Dalam pengejaran terhadap kedua sasaran itu, Muhammad Khaeruddin II berhasil ditangkap, untuk proses selanjutnya dibuang ke Ambon. Sementara mbah Muqayim dan Ki Ardisela berhasil mengusir tentara Belanda dari Desa Pasawahan.

Ketika mbah Muqayim berada di Beji, masyarakat Cirebon terserang wabah penyakit tha’un. Ketenteraman masyarakat terganggu dihantui rasa gelisah dan was-was, bahkan tidak sedikit yang meninggal karena wabah tersebut. Pemerintah sudah melakukan berbagai macam usaha, namun selalu gagal sehingga timbul pemikiran bahwa yang mampu mengatasi tho’un hanyalah mbah Muqayim. Atas saran dari beberapa tokoh masyarakat, akhirnya mbah Muqayim dicari dan setelah jelas keberadaannya diutuslah beberapa orang utusan untuk meminta bantuan kepada mbah Muqayim. Permohonan dari utusan itu diterima mbah Muqayim tapi dengan dua syarat yaitu: 1) Muhammad Khaeruddin II dibebaskan dan dikembalikan di Cirebon, dan 2) Di daerah-daerah wilayah Cirebon agar didirikan masjid.

Setelah mbah Muqayim melihat Muhammad Khaerudin II dibebaskan dan kembali berada di Cirebon, walaupun oleh keluarga sultan tidak diperkenankan tinggal di lingkungan Kesultanan Kanoman (konon, Muhammad Khaeruddin II tinggal di Sunyaragi). Dengan segala kemampuan ilmu yang dimilikinya dan atas kehendak Allah swt. mbah Muqayyim berhasil mengatasi dan menghilangkan wabah penyakit tha’un itu. Sehingga ketegangan dan ketentraman masyarakat Cirebon pulih kembali.

Sebagai pelepas rindu dengan “Pangeran Santri” yang telah lama tidak bertemu, mbah Muqayim bersilaturahmi ke rumah Muhammad Khaeruddin II di Sunyaragi. Hasil dari silaturahmi itu, pada 17 Mei 1809 Sultan Muhammad Khaeruddin I mempertimbangkan bahwa, Pulasaren dijadikan Kesultanan baru dengan sebutan Kecirebonan dimana Pangeran Muhammad Khaeruddin II sebagai Sultan pertamanya dengan gelar Amirul Mu’minin.

c) Mbah Muqayyim di Tuk, Sindanglaut

Sumber informasi berupa catatab sejarah yang akurat menyebutkan bahwa, sumur atau tuk Muara Bengkeng merupakan sumber air bagi masyarakat wilayah Sindanglaut dan sekitarnya. Sekarang, Tuk adalah nama desa yang letaknya di sebelah selatar Kantor Kawedanan Sindanglaut Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon. Diinformasi bahwa, sejarah terbentuknya tuk muara bengkeng (cerewet)merupakan permintaan Ki Ardisela kepada mbah Muqayim sebagai imbal jasanya atas keterlibatan Ki Asrdisela ketika membantu mbah Muqayim dalam pertempuran melawan Belanda di Pesawahan.

Konon, lambang keakrabannya antara Ki Ardisela dengan mbah Muqayim, Ki Ardisela meminta kepada mbah Muqayim untuk membuatkan sumur (Tuk) yang diharapkan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat daerah tersebut. Dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimilikinya, mbah Muqayim dalam beberapa saat mampu membuat sumur yang kemudian sumur tersebut dikenal dengan nama Muara Bengkeng. Tuk atau sumur itu, letaknya berdekatan dengan pesarean Ki Ardisela. Sumur tersebut diberi nama Muara Bengkeng, karena konon manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat untuk menghilangkan sikap bengkeng, cekcok rumah tangga, penderitaan dan kesedihan yang berlarut-larut. Semua jenis penyakit itu dapat dihilangkan hanya dengan meminum air Tuk itu dan mengusapkannya.

Di Desa Tuk inilah mbah Muqayim dimakamkan, bersebelahan dengan makam Ki Ardisela. Kedua kuburan ini, hingga sekarang dijadikan sebagai pusat jiarah umat Islam, khususnya keturunannya dan para santrinya, pada setiap hari Jum’at. Sekarang di daerah Tuk telah di dibuka Majelis Taklim dan Madrasah Ibtidaiyah serta SMP NU atas prakarsa Kiyai Umar Anas dan tokoh/pemuka agama setempat antara lain Kiyai Kailani, A.L. Effendi, dan Kiyai Aqshol Amri Yusuf.

d) Mbah Muqayim di Setu Patok

Sejarah kehidupan mbah Muqayim juga ada kaitan erat dengan terbentuknya bendungan Setu Patok. Konon sejarah Kecirebon menyebutkan bahwa, ketika Kiyai Enthol Rujidnala, salah seorang sesepuh keturunan Pangeran Luwung, mengadakan sayembara menanggulangi banjir yang selalu melanda Desa Setu. Salah seorang peserta sayembara itu adalah mbah Muqayim. Dalam sayembara itu, mbah Muqayyim dengan kesungguh-annya berhasil mengeluarkan seutas benang dari jubahnya, kemudian benang itu direntangkannya: satu sisi berada di jubahnya dan satu sisi yang lain diikatkan pada sebatang patok. Dengan ijin Allah, rentangan benang tadi menjadi bendungan yang kuat untuk mencegah derasnya arus banjir. Di kemudian hari, bendungan tersebut terkenal dengan nama Waduk Setu Patok. Untuk menjalin keakraban, Kyai E. Rujidnala menikahkan putri satu-satunya yang bernama Rt. Randu-walang dengan mbah Muqayim.

e) Mbah Muqayim Seorang Riyadlah

Mbah Muqayim, di samping terkenal sebagai guru dan mufti juga dikenal sebagai seorang ahli Riyadlah. Ini dibuktikan dari suatu peristiwa bahwa untuk kewaspadaan dan penjagaan keselamatannya, beliau pernah berpuasa selama 12 tahun terus menerus memohon kepada Allah Swt. Untuk keselamatan bersama, puasanya terbagi sebagai berikut tiga tahun untuk keselamatan daerah Buntet Pesantren; tiga tahun untuk keselamatan anak cucunya; tiga tahun untuk keselamatan santri dan pengikutnya yang setia; dan tiga tahun untuk keselamatan dirinya.

2.  Raden Muhammad

Berdasarkan data di atas dapat dikemukakan bahwa, mbah Muqayim paling tidak memiliki dua istri yaitu: pertama ia menikah dengan putri Lebe Abd. Salam ketika ia bersama-sama para santrinya berada di Beji (Pemalang); kedua, ia menikah dengan Rt. Randuwalang (putri K.E. Rujidnala) ketika ia berhasil membuat bendungan atau waduk setu patok. Dimungkinkan bahwa, hasil pernikahannya dengan Rt. Randuwalang, lahir seorang putra yang bernama Raden Muhammad. Raden Muhammad punya seorang putri yang bernama Rt. St. Aisyah, yang kemudian menikah dengan Raden Muta’ad (dengan demikian, tidak banyak data tentang kehidupan Raden Muhammad, putra mbah Muqayim ini).

3.  Raden Muta’ad (1785-1842)

Raden Muta’ad dilahirkan pada 1785 M., putra Raden Muridin bin Raden Muhammad Nurudin (keturunan ke-17 dari Syarif Hidayatullah). Beliau adalah salah seorang santri yang terpandai dari mertuanya yaitu Raden Muhammad (anak tunggal mbah Muqayim). Beliau pernah belajar kepada KH. Muta’ad Musa’im Jepara di Pesantren Siwalan Panji Surabaya. Beliau pertama menikah dengan Nyai Rt. Aisyah (Nyai Lor)  dengan dikaruniai anak berputra 10 orang, yaitu: 1. Nyi Rokhilah, 2. Nyi. Amanah, 3. Nyi. Qoyyumah, 4. KH. Sholeh Zamzam, 5. Nyi.  Sholemah, 6. Abdul Jamil, 7. Kyai Fakhrurrazi, 8. Abdul Karim. Kemudian beliau menikah dengan Nyai Kidul (?) mendapat putra lima orang yaitu  1. Nyi Saodah, 2. KH. Abdul Muin, 3. K. Tarmidzi, 4. Nyi Hamimah, dan 5. KH. Abdul Mu’thi.

Putri pertama dari pernikahan K. Muta’ad dengan St. Aisyah yakni Nyi Rokhilah, dinikahkan dengan K Anwaruddin (yang terkenal dengan sebutan Ki Kriyan). Atas bantuan Ki Kriyan terhadap perkembangan Pondok Pesantren Buntet, sehingga Pondok Pesantren Buntet semakin berkembang. Berkat banutan Ki Kriyan juga, keadaan Pesantren Buntet bertambah mantap sehingga K. Muta’ad dapat mengadakan pembinaan-pembinaan ke dalam dan melakukan pembenahan terhadap seluruh hasil perjuangan mbah Muqayim. Jumlah santri semakin bertambah banyak, bangunan pondok mulai didirikan meskipun masih sangat sederhana. Prinsip dasar dan semboyan mbah Muqayim dalam menghadapi penjajah yaitu lebih baik memiliki bangunan dengan tiang dari pohon jarak tetapi hasil usaha sendiri, dari pada bangunan megah hadiah penjajah oleh K. Muta’ad selalu dijunjung tinggi dan tetap dipertahankan.

Peninggalan-peninggalan K. Muta’ad adalah, berupa kitab suci al-quran yang ditulis dengan tangannya sendiri, dan beberapa KK. Hingga kini, peninggalan-peninggalan itu masih tersimpan dengan baik dan merupakan bahan perpustakaan bagi Pondok Pesantren Buntet antara lain hasil tulisan tangan KH. Muta’ad sendiri dan hasil tulisan tangan KH. Anwaruddin (Ki Kriyan).

K. Muta’ad dalam membina dan memimpin Pondok Pesantren Buntet selalu bercermin kepada kepemimpinan mbah Muqayyim yang tidak pernah kompromi dengan tentara Belanda; Walaupun ia keturunan Keraton Cirebon, beliau berjiwa patriot dan anti kolonial, beliau juga salah seorang pejuang dan anti feodalisme; sebaliknya ia lebih memperhatikan nasib masyarakat banyak. Pernyataan ini ia buktikan dengan tidak menggunakan nama kebangsawanannya (sikap ini, ia mewariskan kepada anak cucunya), sebagai protes atas perilaku kakek neneknya yang bekerja sama dengan Belanda; malah justru sebaliknya, ia menyebarkan anak cucunya untuk mendirikan pondok pesantren di berbagai daerah antara lain di Gedongan (Pondok Pesantren Gedongan, melalui keturunan dari Ny. Maemunah) dan di Benda Kerep Kodia Cirebon (Pondok Pesantren Benda melalui keturunan dari KH. Tarmidzi).

Dampak secara langsung atas sikap dan perjuangannya yang selalu menentang tentara Belanda dan keteguhannya dalam menegakkan prinsip hidupnya itu, ia juga mengalami peristiwa sebagaimana yang dialami mbah Muqayim yaitu selalu dikejar-kejar, diawasi dan dirongrong tentara Belanda, baik jiwanya maupun pondok yang dipimpinnya. Melihat keadaan seperti ini, K. Muta’ad memindahkan lokasi pondoknya dari Desa Dawuan Sela ke Desa Mertapada Kulon (1 km ke arah timur). Inilah hasil usaha keras K. Muta’ad yang bersifat monumental dalam membina dan memimpin pondok pesantren Buntet. Salah satu alasan pemindahan lokasi pesantren Buntet, menurut KH. Shobih adalah karena tempat yang baru (Desa Mertapada Kulon) ini diberkahi Allah. melalui shalat istikharah yang dilakukannya (Wawancara, 19 Januari 1999).

Ketika ditanya mengapa nama pondok pesantren ini lebih terkenal sebagai pondok pesantren Buntet, padahal lokasinya berada di wilayah Desa Mertapada Kulon? KH. Shobih mengatakan,

Kata “Buntet” yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Buntet Pesantren, “wilayah kekuasaannya” meliputi Desa Buntet, Desa Mertapada Kulon, Desa Sida Mulya dan Desa Munjul. Karena itu, Desa Buntet merupakan bagian dari “wilayah kekuasaan” Buntet Pesantren. Adapun Pesantren Buntet yang ada di Desa Mertapada Kulon, adalah lembaga pendidikan Islam yang bernama “Buntet”. Mengapa demikian, karena nama “Buntet” lebih dulu ada jika dibandingkan dengan nama-nama desa yang ada di lingkungan Buntet Pesantren. Bahkan konon yang mendirikan desa-desa di lingkungan Buntet Pesantren adalah, para kiyai dan keluarga Buntet Pesantren”.

Pada 1842 K. Muta’ad meninggal dunia. Beliau meninggalkan dua orang istri yaitu Ny. Ratu St. Aisyah (Nyi Lor) dan Nyi Kidul (wanita berasal dari daerah Tuk, Lemahabang) dan beberapa keturunannya yang melanjutkan kepemimpinan pesantren Buntet. K Muta’ad dalam membina dan memimpin Pondok Pesantren Buntet berlangsung selama 57 tahun yaitu sejak 1785-1842.

4.  KH. Abdul Jamil (1842-1910).

Abdul Jamil adalah salah seorang putra K. H. Muta’ad dilahirkan pada tahun 1842 M Prinsip dasar pembinaan dan pengembangan Pondok Pesantren Buntet dilanjutkan dan perluas lagi sesuai dengan kondisi dan situasi kemajuan pendidikan saat itu. Pembangunan organisasi Pesantren Buntet, sistem pendidikan dan pengajaran, gedung-gedung asrama atau pondok diadakan dan diselenggarakan sesuai dengan kemampuannya. Pembagian tugas di dalam pesantren tersusun jelas dan tegas, pengajian KKdan pengajian khusus al-quran dilaksanakan sedemikian rupa, pengiriman-pengiriman tenaga kader pesantren baik dari “keluarga dalam” maupun pager sari dilaksanakan dengan baik, yaitu mengirimkan mereka ke beberapa pesantren terkenal di Jawa, luar Jawa bahkan ke Makkah dan Madinah dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh kyai.

Pembangunan mental dan spiritual dilaksanakan serentak dengan pembangunan fisik, oleh karenanya di samping membangun asrama atau pondok, masjid jami’, tempat-tempat pengajian umum thariqah sebagai suatu usaha mencari ketengangan dan ketenteraman jiwa dalam beribadah juga tumbuh dan berkembang dengan pesat. Thariqah mu’tabaroh yang tumbuh dan menjadi pegangan beliau khususnya dan para pembina Pesanten Buntet umumnya adalah thariqah syatariyah dengan jumlah pengikut yang cukup banyak hampir di seluruh pelosok tanah air.

K. Duljamil (demikian masyarakat setempat memanggilnya) tidak hanya terkenal sebagai guru ngaji dan ahli thariqat, beliau juga memiliki ilmu kanuragan sebagaimana dimiliki mbah Muqayyim. Salah satu bukti baliau memiliki ilmu kanuragan ialah, ketika di Jombang (Jawa Timur) terjadi kekacauan dan musibah menyebarnya wabah penyakit beliau diminta bantuannya oleh KH. Hasyim Asy’ari untuk meredakan kerkacauan itu. Atas kepercayaan itu, beliau berkenan berangkat memenuhi permintaan tersebut bersama-sama dengan kakaknya KH. Shaleh (Bendakerep, Kota Cirebon), KH. Abdullah (Panguragan, Arjawinangun), K. Syamsuri (Walantara, Cirebon Selatan) yang juga mendapat panggilan dari Khadratu Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dari Tebuireng (Jawa Timur). Pada saat itu K. Abdul Jamil baru berusia 28 tahun (pada 1900 M).

Amaliah ilmiah yang bersifat monumental hingga kini masih diselenggarakan di Pondok Pesantren Buntet adalah K. Duljamil memprakarsai dislenggarakannya pengajian KK elementari dan tadarrus al-quran pada setiap bulan ramadlan. Pengajian KK elementari yang dilaksanakan pada bulan ramadlan ini kemudian dikenal dengan sebutan ngaji pasaran, waktunya setelah shalat dzuhur dan shalat ashar; sedangkan tadarrus al-quran dilaksanakan ba’da shalat taraweh dan menjelang shalat shubuh, dengan diisi bacaan-bacaan ayat al-quran oleh para santri dan qori kenamaan seperti KH. Shaleh Ma’mun (Banten), KH. Mansur Ma’mun dan KH. Syihabuddin. Pelaksanaan tugas sehari-hari selama bulan ramadlan ini adalah K. H. Abd. Muin, KH. Abdul Mu’thi, K. Tarmidzi, K. Mu’tamil, dan KH. Abdullah.

K. Abdul Jamil meninggal pada 23 Rabbiul Awwal 1339 H./ 1918 M  dimakamkan di Buntet Pesantren dengan meninggalkan dua orang istri yaitu Nyi. Sa’diyah binti Ki Kriyan (dari istri Nyi. Sri Lontang Jaya, Arjawinangun) dan Nyi. Qoriah binti KH. Syathori (Arjawinangun, Cirebon) serta 15 orang putra-putri yaitu 6 (enam) orang dari pernikahannya dengan Nyi. Sa’diyah (1.Nyai Syakiroh, 2. Nyai Mandah, 3. KH. A. Zahid, 4. Nyai Sri Marfuah,  5. Nyai Halimah dan 6. Nyi Hj. Madroh) dan 9 (sembilan) orang dari pernikahannya dengan Nyi Qoriah (1. KH. Abas, 2. KH. Anas, 3. KH. Ilyas, 4. Nyi. Hj. Zamrud, 5. KH. Akhyas, 6. K. Ahmad Chowas, 7. Nyi. Hj. Yakut, 8. Nyi. Mukminah dan 9. Nyi Nadroh). Sedangkan saudara sepupu lainnya yang bernama KH. Said, mendirikan Pesantren Gedongan (Ender, Astanajapura) dan KH. Saleh mendirikan Pesantren Bendakerep (Kota Cirebon).

Sifat-sifat beliau antara lain rendah hati tetapi berani dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan, lapang dada dan berpandangan jauh ke depan, berfikiran tajam, bijaksana, pemurah, suka menolong, dan pemaaf K. Abdul Jamil memimpin Pesantren Buntet dari tahun 1842-1910.

1. KH. Abas Abdul Jamil (1910-1946)

Beliau adalah putra pertama KH. Abdul Jamil dari pernikahannya dengan Nyi. Qoriah, dilahirkan pada 24 Dzulhijjah 1300 H./1879 M di Pekalangan Cirebon. KH. Abas, belajar ilmu-ilmu keagamaan pertama sekali memperoleh bimbingan dari orang tuanya KH. Abdul Jamil, kemudian oleh orang tuanya dikirim ke K. Nasukha di Sukunsari (Plered), selanjutnya beliau belajar kepada K. Hasan (Jatisari, Majalengka),  kepada K. Ubaedah (Tegal) kepada KH. Hasyim Asyari (Tebuireng, Jombang), kepada KH. Wahab Hasbullah (Jawa Tengah), dan bersama KH. Abdul Manaf Lirboyo Kediri turut membuka Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Setelah dianggap dewasa, beliau dikirim orang tuanya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, tetapi selama di Makkah beliau belajar kepada KH. Makhfudz Termas bersama KH. Bakir (Yogyakarta) dan KH. Abdillah (Surabaya) bahkan saat itu beliau telah memberikan pelajaran kepada para mukimin di Mekah dalam bidang ilmu fiqh; di antara santrinya  ialah KH. Kholil (Balerante, Palimanan), KH. Sulaiman (Babakan, Ciwaringin). Selama berada di Mekah, beliau tinggal di kediaman Syeikh Jabidi. Setelah kembali dari Makkah, beliau diserahi Pondok pesantren Buntet.

Sifat dan kepribadian ayahandanya diwarisi dan dimiliki KH. Abas. Pada tahapan ini pembangunan dan pemugaran pondok mengenai lokasi maupun konstruksinya baik yang bersifat rehabilitasi maupun pembangunan baru dimulai pada tahapan penerus. Organisasi dan administrasi pesantren Buntet disempurnakan dan pembagian tugas serta wewenang dipertegas penempatan tenaga sesuai dengan keahliannya pengiriman kader diperbanyak, tukar menukar tenaga guru dan santri pesantren lain dilaksanakan di tempatkannya tenaga sukarela di daerah-daerah diintensifkannya kepemimpinan-kepemimpinan dengan kepribadian yang luwes dapat mengangkat martabat Pesantren Buntet serta meletakkannya pada proforsi yang tepat di tengah-tengah tarikan dan gerakan-gerakan empat jaman yang paradoksal yaitu jaman penjajahan Belanda I, penjajahan Jepang, penjajahan Belanda II dan jaman kemerdekaan.

Pada tahapan penerus ini sistem pendidikan semakin ditingkatkan, begitu juga dengan teknik maupun metode. Sistem khas kepesantrenan, dilengkapi dengan sistem madrasah dengan maksud agar saling mengisi dan melengkapi di antara kedua sistem tersebut. Sistem pesantren yang memberikan keluasan kepada santri dalam menyelami KK lebih tinggi dan lebih luas, di samping itu sistem madrasah membuat santri akan mampu berfikir praktis, sistematis dan terarah dalam mewujudkan pola berfikir ilmiah pragmatis, orisinil dengan adanya integrasi dan toleransi antara kedua sistem tersebut.
Pendidikan khusus al-quran al-karim yang telah lama ada, mendapat perhatian utama dari beliau. Dengan cara khusus beliau mengutus beberapa orang untuk mempelajari seluk beluk bacaan ilmu qira’at dan tajwidnya sehingga hasilnya kelak dapat diterapkan dan dikembangkan di Buntet Pesantren. Pengiriman kader tersebut antara lain ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta (KH. Munawwir), ke Banten (KH. Ma’mun) dan ke beberapa pesantren lainnya tetap dilaksanakan. Di samping memimpin pesantren, beliau juga memberikan pengajian KK di tingkat ‘ulya yaitu ilmu tafsir, hadits, tasawuf, fiqh, qira’ah sab’ah, dan ilmu pengetahuan lain yang bersifat khusus seperti ilmu falak, pengobatan, ataupun teknik beladiri.
Pondok Pesantren Buntet semakin lama semakin dikenal masyarakat, sehingga banyak yang masyarakat yang mengirimkan anak-anaknya untuk belajar keagamaan. Karena jumlah santrinya semakin banyak, sehingga pada masa itu dibangun beberapa pondok dan gedung-gedung lembaga pendidikan sekolah. Bangunan pondok dan gedung-gedung itu memperoleh bantuan dari masyarakat, misalnya tanah wakaf/jariyah dari H. Kafrawi (Kratagan Tanjung Brebes) dan jariyah tanah Ki Kuwu Gedung Gegesik untuk penyempurnaan Masjid Jami’ yang dalam pembangunannya dilaksanakan oleh H. Ali Graksan Cirebon.
Pada masa kepemimpinan KH. Abbbas, ngaji pasaran yang diselenggarakan pada Ramadhan, semakin diintensifkan. Begitu juga dengan ifthar (makan berbuka puasa) dan makan bersama pada sahur di bulan Ramadhan tetap dilakukan secara bersama-sama, bebas dan terbuka bersama masyarakat umum sebagaimana lajimnya dilakukan pada zaman ayahandanya. Bahkan pada setiap musim paceklik, beliau membuka dapur umum untuk menolong fuqoro dan masakin.
KH. Abbbas (sebagaimana orangtua dan kakeknya yang pejuang) hidup di empat zaman, beliau juga besama adiknya KH. Anas turut berjuang memanggul senjata dalam mempertahankan kedaulatan negara RI. Beliau bersama dengan adiknya memanggul senjata bersama para pejuang lainnya di tengah-tengah kancah peperangan pada 10 Nopember di Surabaya. Di samping itu, belia sebagai pemimpin Pesantren ia mengirimkan berapa orang santrinya ke Jakarta, Cianjur, Bekasi dan daerah-daerah lain dalam turut serta melawan penjajah sesudah penandatanganan persetujuan Linggarjati.
Sedangkan aktivitas dalam pergerakan nasional, KH. Abbas pernah dipercaya menjabat antara lain sebagai :
1.      Musytasyar PBNU,

2.      Ro’is Syuriah NU Cabang Cirebon

3.      Ketua Bagian Hukum Dagang Syariat Islam

4.      Turut mendirikan Putera PETA

5.      Anggota Sangi Kai (DPRD) dan Sangi In (DPR Pusat)

6.      Pimpinan Hisbullah dan Sabilillah

7.      Anggota KNIP wakil ulama Jawa Barat.

8.      Aktif di dalam gerakan-gerakan nasional lainnya

Dalam organisasi perjuangan umat Islam didirikan sabilillah sebagai reaksi spontan terhadap imperialis. Sabilillah merupakan barisan orang-orang tua yang cukup militan dan disegani. Dengan segala macam cara, mereka bergabung membentuk kekuatan yang tangguh dalam menghadapi pertempuran dengan penjajah. Sabilillah dipimpin langsung oleh KH. Abas dan KH. Anas dengan dibantu oleh beberapa sesepuh seperti KH. Murtadha, K H. Shaleh, KH. Mujahid, KH. A. Zahid, KH. Imam, KH. Zain, KH. Mustahdi Abas, KH. Mustami’ Abas, KH. Khawi, K. Busyol Karim dan lain-lain.

Organisasi perjuangan umat Islam pada revolusi fisik menampung kekuatan angkatan muda Islam dalam Hisbullah untuk melawan Belanda. Latihan-latihan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh banyak diperoleh dalam Peta “Pembela Tanah Air”. Hisbullah dipimpin KH Hasyim Anwar dan KH. Abdullah Abas. KH. Abdullah Abas sekarang ini dianggap sebagai sesepuh pondok pesan-tren Buntet yang dijadikan tempat konsultasi dalam pengelolaan dan penyeleng-garaan pendidikan  di pondok pesantren Buntet. Adapun penyelenggaraan pendi-dikan yang ada di Pesantren Buntet, dikelola oleh sebuah badan yang bernama Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dengan struktur organisasi sebagai berikut:

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) dipimpin oleh seorang ketua yang dipimpin yaitu KH. Abdul Hamid Anas yang membawahi seksi-seksi pendidikan pesantren, pendidikan madrasah, organisasi dan administrasi, kerohanian, kepemudaan, Ikatan Alumni Pondok Pesantren, Lurah pondok dan Ketua Asrama. Keberadaan LPI ini berfungsi menginte-grasikan dan mengokohkan kinerja lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan pondok pesantren Buntet.

KH. Abbas Abdul Jamil meninggal dunia pada Ahad, 1 Rabiul Awwal 1365 H./1946 M dalam usia 62 tahun dan dimakamkan di komplek Pesantren Buntet. Beliau meninggalkan dua orang istri (Nyi Hafidzoh dan Nyi Hj. Imanah) dan 5 (lima) orang putra yakni lima putra dari pernikahannya dengan Nyi Hafidzoh (1. KH. Mustahdi Abbas, 2. KH. Mustamid Abbas, 3. KH. Abdurrazak dan 4. Nyi Sumaryam) dan 2 (dua) orang anak dari pernikahannya dengan Nyi Hj. Imanah yaitu KH. Abdullah Abbas. Putra beliau yang termuda H. Nahduddin Abas sampai saat ini masih studi di London (Inggris) setelah menyelesaikan belajar di Saudi Arabia dengan dua orang cucu KH. Abas yaitu Ghozi Mujahid (putra KH. Mujahid) dan Jailani Imam (putra KH. Imam). Setelah beliau meninggal, kepimpinan Pesantren Buntet dilanjutkan oleh salah seorang putranya yaitu KH. Mustahdi Abas yang dibantu adiknya KH. Mustamid Abas.

KH. Mustahdi Abbas (1946-1975); KH. Mustamid Abbas (1976-1989) dan sekarang pondok pesantren Buntet dipimpin KH. Abdullah Abbas.

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: